Menjaga lingkungan tetap hijau dan bersih adalah tanggung jawab kita bersama.
Banyak hal dapat dilakukan. Nggak usah mikir yang muluk-muluk, mulai dari yang sederhana saja.
Mulai dari rumah kita, mulai dari diri kita....

Rabu, 01 September 2010

Komposter Maggot!

Apakah itu komposter maggot? Mungkin Anda bertanya-tanya seperti itu. Maklum, ini istilah baru yang saya coba perkenalkan kepada Anda. Belum ada yang lain yang mencetuskannya. Yang sering Anda dengar mungkin istilah komposter aerobik, komposter takakura, dan sebagainya. Komposter maggot adalah alat yang berfungsi untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos dan sekaligus digunakan sebagai alat budidaya maggot. Maggot adalah larva lalat yang bentuknya menyerupai ulat.

Komposter maggot, lain dengan komposter aerobik yang pernah kami disain baik bentuknya maupun tata cara kompostingnya. Bentuk komposternya seperti 2 buah corong (cone) yang disatukan mulutnya. Satu corong ditanam di tanah, sedangkan yang satunya lagi muncul di atas permukaan tanah. Dengan komposter maggot, sampah dapur (kitchen waste) dapat diubah menjadi kompos dengan usaha yang sangat minimal. Sampah dapur yang dikomposkan tidak perlu dipotong-potong terlebih dahulu, tidak perlu diaduk-aduk, tidak perlu risau dengan kelembapannya yang relatif basah. Sampah dapur atau sampah makanan langsung saja dicemplungkan ke dalamnya. Sungguh, suatu cara yang sangat praktis dan sederhana.

Komposter maggot merupakan komposter plastik yang saya disain yang memungkinkan telur lalat menetas menjadi larva dalam suasana yang hangat dan cocok baginya. Dalam ujicoba yang sedang saya lakukan, produksi maggotnya belum saya hitung berapa jumlahnya. Tetapi dari pengamatan, seluruh permukaan sampah di dalam komposter dipenuhi oleh maggot hingga ketebalan sekitar 1- 2 sentimeter. Mereka saling berdesakan menutup permukaan sampah. Saling menyelusup dalam populasinya yang sangat banyak.

Kemudian maggot sebanyak itu untuk apa? Maggot yang dihasilkan, rencananya akan saya integrasikan dengan budidaya lele dalam drum. Maggot akan menjadi sumber pakan bagi lele yang kaya akan protein sehingga akan mensubstitusi pelet yang biasanya harus dibeli di pasaran. Bagaimana hasil integrasi komposter maggot dan budidaya lele dalam drum, nanti saya akan laporkan dalam blog ini.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

jempol banget artikelnya mas !
prkenalkan nama saya zubad dari kota kecil lamongan.
saya mau mempelajari lebih dalam cara budidaya manggot !
klo boleh tolong minta gambaran secara rinci !
bisa di kirim ke emal saya
"zubad.ijoe@gmail.com"
terimakasih !

Rachmat Shanghai mengatakan...

terima kasih telah berbagi ilmu anda. saya sedang mencari cara penanganan sampah daur ulang yang cocok untuk lingkungan kota kita ini, yang semakin padat dan kumuh, apalagi di tambah dengan baunya sampah ... kalau sampah bisa di kelola dengan baik, bukankah akan membuka lapangan kerja dan keuntungan serta ramah lingkungan?
sebagai informasi, saya mencoba membudidaya maggot untuk pakan ayam dan hasilnya ayam saya sangat suka, tapi masih terkendala dengan bau sampah yang asam menusuk hidung serta pasca panen yang sedikit menjijikkan bagi yang tidak biasa .. salam mas kalo bisa berbagi lagi, saya di email rachmatshanghai@gmail.com

oh ya, untuk komposter berapa ya dijualnya? saya posisi di jakarta, tapi mau pakainya di puncak cipayung, saya ambil sendiri pakai mobil bak, bisa muat berapa untuk 1 pick up? rencananya mau bikin kompos dari sampah sungai yang kalo ujan ajubile banyaknya .. dari celana dalam sampe gedebog pisang, dari pampers sampe kayu balok ... serta sampah plastik lainnya ... saya pikir kalo tidak di urai di atas, pasti akan turun ke bawah, ujung2nya ke jakarta juga ... kalo kita bisa bikin jadi pupuk, kan ke jakarta udah dalam bentuk pisang , heheheh
thanks dan salam kenal
Rachmat

Rachmat Shanghai mengatakan...

terima kasih telah berbagi ilmu anda. saya sedang mencari cara penanganan sampah daur ulang yang cocok untuk lingkungan kota kita ini, yang semakin padat dan kumuh, apalagi di tambah dengan baunya sampah ... kalau sampah bisa di kelola dengan baik, bukankah akan membuka lapangan kerja dan keuntungan serta ramah lingkungan?
sebagai informasi, saya mencoba membudidaya maggot untuk pakan ayam dan hasilnya ayam saya sangat suka, tapi masih terkendala dengan bau sampah yang asam menusuk hidung serta pasca panen yang sedikit menjijikkan bagi yang tidak biasa .. salam mas kalo bisa berbagi lagi, saya di email rachmatshanghai@gmail.com

oh ya, untuk komposter berapa ya dijualnya? saya posisi di jakarta, tapi mau pakainya di puncak cipayung, saya ambil sendiri pakai mobil bak, bisa muat berapa untuk 1 pick up? rencananya mau bikin kompos dari sampah sungai yang kalo ujan ajubile banyaknya .. dari celana dalam sampe gedebog pisang, dari pampers sampe kayu balok ... serta sampah plastik lainnya ... saya pikir kalo tidak di urai di atas, pasti akan turun ke bawah, ujung2nya ke jakarta juga ... kalo kita bisa bikin jadi pupuk, kan ke jakarta udah dalam bentuk pisang , heheheh
thanks dan salam kenal
Rachmat