Menjaga lingkungan tetap hijau dan bersih adalah tanggung jawab kita bersama.
Banyak hal dapat dilakukan. Nggak usah mikir yang muluk-muluk, mulai dari yang sederhana saja.
Mulai dari rumah kita, mulai dari diri kita....

Kamis, 30 September 2010

Berbagi Rezeki Pesanan Komposter


Sebulan yang lalu kami dapat pesanan sejumlah komposter aerobik. Hasilnya tidak besar, tapi lumayan-lah bisa nambah penghasilan gaji PNS yang pas-pasan. Alkhamdulillah, dari order tersebut kami juga dapat berbagi rezeki dengan tetangga dan teman-teman dekat.

Mereka, di sela-sela waktu luangnya membantu mempersiapkan unit-unit komposter yang dipesan.

Pak Mudrik dan Pak Yos, misalnya, selama empat hari membantu membuat sistem aerasi komposter dengan melubangi komposter dengan bor listrik. Kerjanya sangat cekatan sehingga dalam empat hari seluruh unit komposter yang dipesan berhasil mereka selesaikan. Kata mereka berdua: alkhamdulillah, hasilnya bisa untuk persiapan lebaran....

Sementara itu, mbak Sum, tetangga kami, dibantu suaminya yang biasanya nukang kayu ikutan membantu memotong-motong sampah gabus (styrofoam) menjadi potongan-potongan kubus sebesar tahu sumedang. Anaknya yang masih TK juga ikut membantu memotong-motongnya. Sebanyak tiga karung besar sampah styrofoam akhirnya selesai dipotong-potong dalam waktu dua hari. Setelah itu tangan terampil mbak Sum, memasukannya ke dalam karung bawang dan menjahitnya menjadi bantalan gabus. Bantalan tersebut kami gunakan sebagai dasar rumah udara di dasar komposter.

Ibu-ibu tetangga yang lain pada pingin ngebantu, tapi mungkin baru bisa kalau ada orderan komposter lagi...

Tahu nggak, kira-kira sampah styrofoam-nya dari mana. Itu kami dapatkan dari hasil pengumpulan Pak Manta pekerja TPST Rawasari, Jakarta Pusat. Pak Manta tentu saja dapat bagian dari jerih payahnya mengumpulkan styrofoam.

Abang supir taksi juga dapat kecipratan rezeki, berupa jasa angkut styrofoam dari Rawasari ke workshop kami di Bojonggede, Bogor.

Kemudian terakhir, Pak Asep (pekerja lepas percetakan) bersama temannya, juga membantu kami menyusun unit-unit komposter dan menyediakan jasa pengangkutan pesanan komposter ke lokasi pemesan.

Semoga order komposter semakin bertambah sehingga kami bisa berbagi lebih banyak lagi....

Senin, 27 September 2010

Pelatihan Daur Ulang Sampah Rumah Tangga di Kota Kuala Kencana, Kabupaten Mimika

Pada tanggal 20 dan 21 September 2010 yang lalu, bertempat di Multipurpose Hall, Kota Kuala Kencana, kami dari Pusat Teknologi Lingkungan BPPT bekerjama dengan  Depatemen Lingkungan PT Freeport Indonesia telah melaksanakan Pelatihan Daur Ulang Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat. Pelatihan tersebut bertujuan untuk membentuk Kader Lingkungan di tingkat rumah tangga dan memberi bekal keterampilan kepada mereka dalam mengelola dan mendaur ulang sampah rumah tangga.

Pelatihan tersebut dibuka oleh Manajer Departemen Lingkungan PT Freeport Indonesia, Bapak Andi Mukhsia. Dalam sambutannya, Beliau menyambut baik kerjasama dengan BPPT dalam peningkatan sistem pengelolaan sampah domestik di lingkungan PT Freeport Indonesia terutama di Kota Kuala Kencana dan Tembagapura, Kabupaten Timika. Pada akhir sambutannya, Beliau menyematkan pin Kader Lingkungan kepada para peserta pelatihan yang berjumlah 38 orang terdiri dari 34 ibu-ibu dan 4 orang bapak-bapak.

Sementara itu, Direktur Tekonologi Lingkungan (PTL) BPPT, Dr Joko Prayitno Susanto dalam sambutannya mengatakan bahwa permasalahan sampah domestik harus dilakukan secara terintegrasi antara aspek teknis, sosial dan lingkungan. Aplikasi rekayasa teknologi tepat guna harus diintegrasikan dengan rekayasa sosial melalui sosialiasi, kampanye, peningkatan awareness, dan sebagainya. Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) perlu diperkenalkan sejak dini di tingkat masyarakat dengan menerapkan teknologi tepat guna yang mudah dan sederhana. Pada akhir sambutannya Direktur PTL, secara simbolis menyerahkan komposter aerobik sampah rumah tangga kepada Bapak Andi Mukhsia, sebagai wakil Kader Lingkungan.

Pelatihan daur ulang sampah tersebut, sebelumnya didahului dengan sosialisasi dan penjajagan jenis materi pelatihan yang diperlukan oleh warga Kota Kuala Kencana. Berdasarkan kebutuhan, materi pelatihan yang diberikan adalah pengetahuan dan keterampilan memilah sampah rumah tangga, mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi kompos dengan komposter aerobik, membuat kerajinan tangan dari sampah kertas dan serat pohon pisang dan membuat kerajinan tas dari sampah plastik kemasan.

Para Kader Lingkungan sangat antusias mengikuti pelatihan yang diterangkan dengan bahasa yang sederhana oleh para narasumber yaitu Bapak Sri Wahyono (koordinator kegiatan), Firman, Feddy, Acep Waluyo dan Aris Rahman. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pelatihan akan dilakukan kegiatan pendampingan, monitoring dan evaluasi kepada para Kader Lingkungan yang telah mendapatkan Komposter aerobik hingga akhir tahun 2010.

Pelatihan tersebut ditutup oleh Bapak Krisnan Ishomartana sebagai Kepala Bagian Edukasi dan Inspeksi Lingkungan di Departemen Lingkungan PT Freeport indonesia sekaligus menyerahkan sertifikat pelatihan. Dalam penutupannya, Beliau menyebutkan bahwa pelatihan kali ini sangat interaktif dan lain dari pada yang lain karena dilakukan oleh para peneliti dan praktisi yang sudah menggeluti dunia persampahan sejak tahun 80-an. Beliau berharap kegiatan tersebut dalam berjalan secara berkelanjutan dengan menggali potensi lokal Kota Kuala Kencana.

Warga Kota Tembagapura Berlatih Mendaur Ulang Sampah Rumah Tangga

Tidak mau ketinggalan dengan warga kota Kuala Kencana di lowland, warga Kota Tembagapura yang berada di highland juga berlatih mendaur ulang sampah rumah tangga pada tanggal 23 dan 24 September 2010, bertempat di Community Hall, Kota Tembagapura.

Pelatihan kali ini dibuka oleh Ibu Fanny Mahler, istri Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Dalam sambutannya, Beliau mengharapkan peran aktif ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Persatuan Wanita Tembagapura dalam mengelola sampah domestiknya menjadi kompos dan barang-barang kerajinan rumah tangga. Dengan demikian diharapkan kegiatan 3R akan semakin meningkat dan akan mengurangi jumlah sampah di Kota Tembagapura yang dibuang ke TPA. Pada akhir sambutannya, Beliau menyematkan pin Kader Lingkungan kepada para peserta pelatihan yang berjumlah sekitar 50 ibu-ibu rumah tangga.

Sementara itu, Direktur Tekonologi Lingkungan (PTL) BPPT, Dr Joko Prayitno Susanto dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan peningkatan sumberdaya sosial di Tembagapura sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1980-an. Kebetulan, para narasumber yang hadir dalam pelatihan ini adalah ’para alumni’ atau orang-orang yang aktif dalam kegiatan saat itu seperti Bapak Firman, Feddy dan Acep Waluyo. Namun kali ini, pengembangan sosial yang mereka bawa adalah teknik-teknik mendaur ulang sampah rumah tangga.

Seperti halnya di Kota Kuala Kencana, pelatihan daur ulang sampah di Tembagapura, sebelumnya didahului dengan sosialisasi dan penjajagan jenis materi pelatihan yang diperlukan. Materi pelatihan yang diberikan adalah pengetahuan dan keterampilan memilah sampah rumah tangga, mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi kompos dengan komposter aerobik, membuat kerajinan tangan dari sampah kertas dan serat pohon pisang dan membuat kerajinan tas dari sampah plastik kemasan.

Antusiasme warga Tembagapura tidak kalah dengan para Kader Lingkungan Kota Kuala Kencana dalam mengikuti pelatihan yang diterangkan dengan bahasa yang sederhana oleh para narasumber yaitu Bapak Sri Wahyono, Firman, Feddy, Acep Waluyo dan Aris Rahman.

Pelatihan tersebut ditutup oleh Bapak Novri Visco dari Departemen Lingkungan PT Freeport Indonesia. Dalam penutupannya, Beliau memberikan cenderamata patung yang berasal dari daur ulang kaleng alumunium kepada grup yang berhasil membuat membuat tas dari sampah plastik yang paling cepat dan rapih. Hadiah serupa juga diberikan kepada Kader Lingkungan yang berhasil menjawab pertanyaan kuis.

Compost Idol di Kuala Kencana dan Tembagapura

Di antara nara sumber pelatihan daur ulang sampah rumah tangga yang dilaksanakan baik di Kota Kuala Kencana maupun di Tembagapura adalah Bapak Firman L. Sahwan. Kepakarannya di bidang komposting patut diacungi jempol karena mampu membawakan materi dasar dan teknik komposting dalam bahasa yang lugas, sederhana dan mudah dipahami oleh ibu-ibu rumah tangga.

Istilah-istilah rumit diganti dengan istilah keseharian, misalnya ketika menerangkan C/N ratio, unsur C diibaratkan sebagai nasi, dan N sebagai lauk pauk. Kebutuhan oksigen mikroba aerob, diibaratkan kebutuhan kita akan udara untuk bernafas, dan kebutuhan akan kelembapan yang tepat ibarat kita butuh air untuk minum. Tapi kalau airnya kebanyakan, komposting akan berhenti karena bakteri aerobnya kelelep, katanya...

Selingan-selingan humornya juga cukup segar dan mengakrabkan para Kader Lingkungan yang baru kenal. Maka tak ayal lagi, pak Firman menjadi idolanya Ibu-ibu Kader Lingkungan di kedua Kota Tambang tersebut. Oleh karena itu, kami menyebutnya sebagai ”Compost Idol”. Bila waktu rehat tiba, Pak Firman diserbu oleh para Kader dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kompos, media tanam, dan budidaya tanaman hias.

Dalam pelatihan daur ulang tersebut Pak Firman membawakan materi tentang dasar-dasar komposting, tatacara pembuatan komposter aerobik, dan tata cara proses kompostingnya. Materi dasar komposting yang dibawakannya meliputi parameter –parameter komposting seperti C/N ratio, aerasi, kelembapan, temperatur, pH, ukuran fraksi sampah, bioaktivator, dan sebagainya. 

Sementara itu pembuatan komposter yang diajarkan adalah komposter aerobik hasil disain BPPT yang telah teruji di berbagai kota di Indonesia. Komposternya sederhana, menggunakan bahan baku lokal, tidak tergantung aktivator komersial, tidak mengakibatkan bau dan tumbuhnya belatung, dan mudah penggunannya.

Proses komposting yang diajarkan meliputi pemilahan sampah, pencacahan sampah organik, pencampuran dengan bumbu kompos, pengadukan, pengendalian kelembapan, dan pemanenan kompos. Dalam praktek komposting peserta pelatihan yang jumlahnya mencapai 50 orang (baik yang di Kota Kuala Kencana maupun Tembagapura) dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok dibekali satu unit komposter aerobik yang khusus kami bawa dari Jakarta. Sampah yang digunakan dalam praktek terdiri atas sampah dapur dan sampah kebun yang dibawa sendiri oleh para Kader Lingkungan.

Ibu-ibu di Kuala Kuala Kencana dan Tembagapura Belajar Menjahit Tas Berbahan Dasar Sampah Plastik Kemasan

Bagi ibu-ibu yang tergabung dalam gerakan mencintai lingkungan di Kota Kuala Kencana dan Tembagapura, Kabupaten Mimika (Papua), keinginan bisa membuat tas cantik dari plastik kemasan sudah cukup lama. Oleh karena itu, ketika kami menjajagi materi apa yang diinginkan ibu-ibu dalam pelatihan daur ulang sampah adalah membuat tas dari plastik kemasan yang saat ini cukup populer. Di Kuala Kencana tas plastik semacam itu harganya mencapai 500 ribu rupiah.

Seperti halnya praktek komposting, dalam praktek pembuatan tas plastik para peserta pelatihan dibagi dalam 4 sampai 5 grup dengan masing-masing grup memegang satu mesin jahit. Bahan plastik kemasan, benang, jarum, gunting,penggaris, pola tas dan sebagainya kami persiapkan dari Jakarta. Setiap grup mendapatkannya sebagai bahan praktek.

Ibu-ibu Kader Lingkungan sangat antusias dan semangat dalam mempraktekan pembuatan tas plastik. Walaupun Pak Aris Rahman (pengrajin tas daur ulang plastik yang kami ajak dari Jakarta) orangnya cukup pendiam, bersama ibu-ibu, semua ilmu yang dimilikinya ditumpahkan semua kepada para Kader Lingkungan.

Praktek yang diajarkan berupa pembuatan tas, suatu bentuk sederhana yang menjadi dasar kerajinan plastik lainnya seperti rangsel, dompet, payung, luch boks, dan sebagainya. Dengan pengetahuan dasar pembuatannya, ibu-ibu Kader Lingkungan akan dapat membuat segala jenis kerajinan berbahan baku plastik kemasan. Praktek pembuatan tas plastik berlangsung sekitar 3 jam.

Pada masing-masing kelompok ada yang mempersiapkan pola, menggunting plastik, menjahit, dan ada yang hanya sebagai penyemangat. Semua saling bekerja sama dan tetap bersemangat. Tidak mengherankan, setelah rehat sholat dan makan siang, para ibu-ibu Kader Lingkungan tetap kembali lagi ke ruang pelatihan. Ibu-ibu dari suku Amungme yang bermukim di sekitar Tembagapura pun tetap tekun mengikuti pelatihan tersebut.

Ketika mereka berhasil membuat tas, tepuk tangan membahana ke seluruh sudut aula pelatihan. Berbagai macam gaya pun muncul dari para Kader Lingkungan ketika foto bersama grupnya sambil memamerkan tas cantik hasil karyanya.

Di Tembagapura, ibu-ibu Kader Lingkungan mendapatkan apresiasi berupa hadiah cendera mata patung dari daur ulang kaleng alumunium. Grup yang dipimpin oleh Ibu Fanny Mahler berhasil membuat tas plastik cantik tercepat dan terapih....

Mendaur Ulang Sampah Kertas Menjadi Kerajinan Tangan

Mendaur ulang kertas merupakan kegiatan konservasi lingkungan karena dapat mengurangi jumlah pohon yang ditebang dari hutan. Dengan cara yang sederhana kertas dapat didaur ulang menjadi kerajinan cantik seperti kartu ucapan, boks karton, amplop, tas, dan sebagainya.

Para Kader Lingkungan di Kota Tembagapura dan Kuala Kencana juga dibekali keterampilan mendaur ulang sampah kertas menjadi tas, amplop dan boks. Praktek daur ulang sampah kertas meliputi perendaman kertas, pemblenderan, pencampuran dengan lem dan pewarna, pencetakan dan pengeringan lembaran art paper. Lembaran kertas seni yang telah dibuat kemudian dibentuk menjadi kerajianan seperti yang disebutkan tadi.

Kepiawaian Bapak Acep Waluyo dalam mendaur ulang kertas diikuti oleh para Kader lingkungan. Mereka secara bergilir mempraktekan pencetakan kertas ke papan pengering.

Selain praktek daur ulang kertas, juga dipraktekan pembuatan kertas seni berbahan baku gedebok pisang.

Ibu Peduli Lingkungan di Highland Tembagapura Papua

Di kota dataran tinggi berhawa sejuk, Tembagapura, ada sebuah keluarga yang sungguh kepeduliannya terhadap lingkungannya patut ditiru. Dia adalah Ibu Iin bersama suaminya yang berkewarganegaraan Swiss. Selama tinggal di kota tambang tersebut, Beliau dan suaminya secara mandiri mempraktekan gaya hidup yang lain dari yang lainnya.

Di samping kesibukan kesehariannya sebagai sukarelawan mendidik anak-anak dari Suku Amungme, Bu Iin berusaha memanfaatkan barang-barang yang sudah dianggap tidak berguna lagi. Sampah organik yang berasal dari dapur dan halaman rumah disulap menjadi pupuk organik dengan teknik vermikomposting. Dengan menggunakan wadah-wadah bekas dan kayu bekas yang berasal dari keluarga yang pindah ke kota lain, cacing dibudidayakan untuk menggemburkan media tanah yang kurang subur.

Casting atau kompos yang berasal dari vermikomposting dimanfaatkan untuk media tanam sayuran yang ditanam di dalam pot di emperan rumah seperti seledri, sawi, dan sebagainya. Sayur-sayuran di Tembagapura merupakan barang langka yang ’diimpor’ dari wilayah atau negara lain sehingga harganya mahal. Dengan menanam sayuran sendiri, sebagian kebutuhan sayur terpenuhi dan lingkungan rumahnya menjadi lebih hijau.

Bu Iin juga tidak segan-segan mengumpulkan sampah lainnya untuk didaur ulang. Setiap beliau ke Jakarta bersama suaminya ketika cuti, tidak lupa membawa sampah plastik kemasan yang kemudian dikirim ke suatu daerah di Jawa Timur. Oleh ibu-ibu janda yang bermukim di sana sampah-sampah plastik yang dikoleksi Bu Iin kemudian disulap menjadi kerajinan tas. Lantas produk tas tersebut, pemasarannya dibantu oleh Bu Iin. Sebagian dipasarkan di Kota Tembagapura.

Bagi Bu Iin dan suaminya, kegiatan ini merupakan gaya hidup sebagai tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Hal ini dapat menjadi contoh para Kader Lingkungan di Kota Tembagapura.

Kehangatan di Hidden Valley Tembagapura yang Dingin

Hidden Valley merupakan suata blok pemukiman di Kota Tembagapura yang suhunya hariannya mencapai sekitar 10 derajat celsius karena letaknya yang tinggi. Lokasi ini diapit oleh jurang dan tebing-tebing bukit batu dan hutan alami. Di ’lembah tersembunyi’ ini bermukim para karyawan yang mengelola pertambangan PT Freeport. Apabila maghrib menjelang, lembah ini sunyi senyap. Dari luar tampak lampu-lampu rumah bertingkat menyala, sedangkan di luar gelap dan udara dingin menyergap.

Walau di luar sepi dan dingin, di sebuah rumah terasa kehangatan menyebar ke seluruh ruangan. Kami malam itu diundang oleh Keluarga Bapak Novri Visco untuk makan malam seusai melakukan pelatihan di Community Hall, di Tembagapura. Guyonan-guyonan segar yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dan mengakrabkan suasana hadir di sela-sela menikmati makanan hangat yang dimasak Bu Novri. Cerita santai silih berganti datang dari Pak Novri, direktur kami Pak Joko Prayitno (yang tidak mau disebut Pak Direktur), dan kawan-kawan yang hadir di rumah tersebut.

Sebelumnya kehangatan juga menyergap kami. Kami juga diundang makan malam di rumah salah satu Kader Lingkungan, yaitu Ibu Iin Musanap, spesialis masakan empek-empek di Hidden Valley. Rasa empek-empeknya tentu saja tidak kalah dengan empek-empeknya Pak Raden di Jakarta!

Rabu, 01 September 2010

Komposter Maggot!

Apakah itu komposter maggot? Mungkin Anda bertanya-tanya seperti itu. Maklum, ini istilah baru yang saya coba perkenalkan kepada Anda. Belum ada yang lain yang mencetuskannya. Yang sering Anda dengar mungkin istilah komposter aerobik, komposter takakura, dan sebagainya. Komposter maggot adalah alat yang berfungsi untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos dan sekaligus digunakan sebagai alat budidaya maggot. Maggot adalah larva lalat yang bentuknya menyerupai ulat.

Komposter maggot, lain dengan komposter aerobik yang pernah kami disain baik bentuknya maupun tata cara kompostingnya. Bentuk komposternya seperti 2 buah corong (cone) yang disatukan mulutnya. Satu corong ditanam di tanah, sedangkan yang satunya lagi muncul di atas permukaan tanah. Dengan komposter maggot, sampah dapur (kitchen waste) dapat diubah menjadi kompos dengan usaha yang sangat minimal. Sampah dapur yang dikomposkan tidak perlu dipotong-potong terlebih dahulu, tidak perlu diaduk-aduk, tidak perlu risau dengan kelembapannya yang relatif basah. Sampah dapur atau sampah makanan langsung saja dicemplungkan ke dalamnya. Sungguh, suatu cara yang sangat praktis dan sederhana.

Komposter maggot merupakan komposter plastik yang saya disain yang memungkinkan telur lalat menetas menjadi larva dalam suasana yang hangat dan cocok baginya. Dalam ujicoba yang sedang saya lakukan, produksi maggotnya belum saya hitung berapa jumlahnya. Tetapi dari pengamatan, seluruh permukaan sampah di dalam komposter dipenuhi oleh maggot hingga ketebalan sekitar 1- 2 sentimeter. Mereka saling berdesakan menutup permukaan sampah. Saling menyelusup dalam populasinya yang sangat banyak.

Kemudian maggot sebanyak itu untuk apa? Maggot yang dihasilkan, rencananya akan saya integrasikan dengan budidaya lele dalam drum. Maggot akan menjadi sumber pakan bagi lele yang kaya akan protein sehingga akan mensubstitusi pelet yang biasanya harus dibeli di pasaran. Bagaimana hasil integrasi komposter maggot dan budidaya lele dalam drum, nanti saya akan laporkan dalam blog ini.

Komposter Maggot: Murah dan Gampang Membuatnya

Salah satu kendala menyediakan komposter di rumah adalah mahalnya harga komposter di pasaran. Sebagai contoh, satu set lengkap komposter yang biasanya ada di pasaran (termasuk produk komposter aerobik kami) dijual dengan harga antara 200 sampai 400 ribu rupiah. Harga sedemikian tentunya tergolong mahal bagi ibu-ibu rumah tangga. Untuk itu, perlu dicari komposter yang murah, bila perlu dapat dengan gampang dibuat sendiri.

Dalam rangka mencari bahan komposter yang murah dan mudah didapat, saya memutuskan untuk mencarinya di toko kelontong (bukan toko lontong, tapi toko yang jualan wadah-wadah plastik) di dekat rumah saya. Harapannya, saya dapat menemukan wadah yang bentuknya sudah terbayangkan di kepala saya, yaitu suatu wadah berbentuk 2 corong (cone) yang disatukan kedua mukanya. Akan tetapi, hanya satu, wadah yang saya temukan yang mirip dengan yang saya bayangkan, yaitu tong plastik biru yang biasa saya gunakan untuk membuat komposter aerobik. Namun harganya tentu saja tinggi, yaitu diatas 60 ribu rupiah untuk yang bervolume 60 liter.

Tanpa sengaja saya melihat 2 buah ember bervolume sekitar 15 liter yang ditumpuk sehingga bentuknya seperti yang saya harapkan. Kedua ember tersebut kemudian saya beli dengan harga 30 ribu rupiah.

Di rumah, kemudian kedua ember tersebut bagian dasarnya dibuka dengan pisau ‘victorlynox’ (pisaunya Mick Gaver) secara hati-hati, dan kedua mulut ember disatukan dengan sekrup. Salah satu hasil bukaan dasar ember saya gunakan untuk tutup komposter dengan diberi semacam pegangan laci.

Salah satu ember, pada seluruh bagian dindingnya kemudian dilubangi dengan solder. Bagian ember inilah yang kemudian ditanam di dalam tanah. Dengan adanya lubang-lubang tersebut memungkinkan material sampah kontak dengan mikroba tanah. Sedangkan ember yang satunya akan terlihat ‘nongol’ dipermukaan tanah sehingga suasananya relatif hangat bagi maggot.

Jadi, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat komposter maggot adalah 2 buah ember (volume boleh berapa saja, tapi jangan ember kecil), 2 buah sekrup, 1 buah pegangan laci. Sementara itu alat yang diperlukan adalah pisau kecil, obeng, dan solder. Anda tertarik untuk membuatnya sendiri?