Menjaga lingkungan tetap hijau dan bersih adalah tanggung jawab kita bersama.
Banyak hal dapat dilakukan. Nggak usah mikir yang muluk-muluk, mulai dari yang sederhana saja.
Mulai dari rumah kita, mulai dari diri kita....

Sabtu, 11 Agustus 2012

MagComp: Alternatif Pengolah Sampah Makanan


Pernahkah Anda mencoba menelisik sampah makanan yang berasal dari dapur atau warung makan? Di dalamnya terdapat beragam sisa materi organik seperti sisa makanan dan buah-buahan, sisa nasi atau sayuran berkuah yang mulai berbau, sisa jeroan ikan yang hendak dimasak yang bau anyir, sisa tulang ikan atau daging yang berbau, dan sebagainya. Sampah tersebut mudah sekali membusuk, kadar airnya tinggi, berbau anyir dan busuk. Sifat tersebut mengundang lalat untuk berkembang biak sehingga dibiarkan beberapa hari saja akan muncul belatung. Sementara itu ketika dikomposkan dalam komposter yang sebelumnya kami disain memerlukan usaha ‘extra’.

 Sudah lama saya memikirkan cara mengelola sampah makanan yang mudah, sederhana, tidak memerlukan usaha ‘extra’, dan murah biayanya. Selama ini, upaya komposting sampah makanan sungguh merepotkan karena tidak semua sampah makanan layak dikomposkan, resiko gagal, dan memerlukan perhatian dan usaha yang extra.

Sebelumnya kami telah menciptakan komposter aerobik, performansinya sangat bagus, namun tidak semua sampah makanan dapat dimasukan ke dalamnya. Selain itu juga memerlukan usaha extra berupa penambahan ‘bibit kompos’, pencacahan, pengadukan dan sebagainya.

Akhirnya setelah ujicoba, ditemukanlah MagComp (Maggot Composter). Dengan MagComp, pengelolaan sampah makanan di rumah menjadi sangat mudah. Bayangkan, sampah makanan, apapun jenisnya, seberapapun basahnya, seberapapun baunya, tanpa perlu dicacah atau dipilih-pilih jenisnya, langsung dapat dimasukkan ke dalam MagComp.

Komposter tersebut tidak memerlukan pengadukan, penyiraman atau pengendalian kadar air, dan material tambahan. Setelah dimasukan ke dalam komposter, sampah makanan cukup didiamkan saja, sembari mengisinya setiap hari dengan sampah yang baru. Setelah sekitar satu pekan, akan berkembang populasi maggot yang dapat digunakan sebagai umpan pancingan, pakan ikan, pakan ayam, dan sabagainya.

Kelemahan dari komposter ini adalah ketika dibuka berbau busuk sehingga ketika memasukkan sampah makanan dilakukan dengan segera. Segera pula ditutup. Tutup komposter didesain dapat menjadi isolator yang baik sehingga bau dari dalam MagComp tidak tersebar keluar. Kelemahan kedua adalah sifat dari bentuk fisik maggot yang bagi sebagian orang itu menggelikan: seperti ulat kecil menggeliat-geliat tanpa bulu….

4 komentar:

andre mengatakan...

Maggot-nya tu larva hewan apa? Lalat kah? Nanti ada banyak lalat di sekitar situ ga?

BTW CAPTCHA_NYA SUSAH BANGET, PAKE YANG LEBIH SIMPEL DONG. DAH 5 KALI COBA BELUM BERHASIL. BIKIN ORANG JADI MALES ! :(

Deni Yamin mengatakan...

bagaimana cara membuatnya?
tolong kirim ke email deni.yamin18@gmail.com, proses bagaimana ?

Anonim mengatakan...

Saya sangat tertarik dengan konsep anda, Saya mau mencoba pembuatan etanol terintegrasi dengan pembuatan pakan ternak ataupun kompos. Mohon infomasi cara pembuatan MagComp nya pak, Terima kasih

Felix Arie Setiawan
Lulusan Teknik Kimia UGM 2010
email : felix.arie@gmail.com

John mengatakan...

Mau BAYAR uang kuliah,,,???
Mau MODAL usaha,,,,,???
Siapapun anda,,, PASTI BISA!!!

Nehh,,, solusinya ada DISINI
'y,,,,,

PASTIKAN anda terdaftar dlm program ini.:)