Menjaga lingkungan tetap hijau dan bersih adalah tanggung jawab kita bersama.
Banyak hal dapat dilakukan. Nggak usah mikir yang muluk-muluk, mulai dari yang sederhana saja.
Mulai dari rumah kita, mulai dari diri kita....

Jumat, 10 Agustus 2012

Lele Buletong: Super Gurih!


Lele Buletong adalah lele yang dibudidayakan dalam tong. Ketika sudah dimasak rasanya sungguh super gurih. Segar dan sangat nikmat di lidah. Bener, nggak bohong. Anak saya sendiri yang bilang. Lihatlah ekspresinya. Dua ekor habis disantap ketika berbuka shaum (puasa) beberapa hari kemarin…

Ini adalah kali pertama saya memanen ikan lele yang saya budidayakan dalam tong. Tidak semua saya panen. Saya pilih empat ekor lele yang paling gemuk dan gede. Tidak semua dipanen karena saya pingin mencobanya dulu, penasaran akan rasanya.

Lele saya panen sambil mengganti airnya yang sudah keruh berwarna kecoklatan. Air yang keruh dimanfaatkan untuk pupuk cair tanaman herbal dan bunga kami. Lele lainnya dibiarkan hidup dalam tong dengan air yang baru diganti. Setelah diambil dari dalam tong, keempat lele kemudian dimatikan. Istri saya nggak tega mematikannya sehingga saya yang mesti mengeksekusinya.

“Nggak tega, Pak. Setiap hari ngeliat, dan ngasih pakannya…” kata istri saya.

Setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir, lele kemudian dicuci di bawah air kran. Sekat antar insang yang ada di bawah lehernya ditarik sampai putus. Kemudian insang yang ada dikepalanya dicabut dan dibuang. Demikian juga seisi perutnya, dibuang dan dibersihkan. Seluruh permukaan tubuhnya dari ujung kepala hingga ekor dicuci bersih.

Lele yang sudah bersih kemudian ditaruh didalam wadah untuk dihilangkan bau anyirnya. Caranya yaitu dengan mengolesinya dengan air perasan jeruk nipis secara merata. Setelah itu, didiamkan beberapa menit. Pada tahap selanjutnya istri saya yang menanganinya. Dengan cekatan, istri saya ‘mengulek’ bumbu di atas ‘cowet’ yang terdiri atas bawang putih, kunyit, jahe dan garam. Bumbu yang sudah lembut, lalu dioleskan merata di permukaan kulit lele dan kemudian didiamkan beberapa menit agar bumbunya meresap. Setelah itu, lele digoreng dalam minyak yang mendidih hingga matang kecoklatan.


Ketika waktu maghrib tiba, kami sekeluarga menyegerakan untuk berbuka dengan es buah dan beberapa butir kurma, diawali dengan basmallah dan setelah beberapa teguk air masuk ke perut, kami berdoa:

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah”

Sungguh, tadinya anak saya yang ketiga nggak tertarik akan lele goreng yang dimasak ibunya. Tapi setelah mencicipinya, akhirnya sepiring nasi dengan lele goreng, sambel terasi, dan lalapan berpindah ke tangan si Destri.

“Enak banget, Pak…” katanya.
“Pelan-pelan, ‘mbak’ makannya. Hati-hati dengan durinya.” Saya mengingatkannya.

Akhirnya dua lele goreng akhirnya amblas masuk ke perutnya yang kecil. Lele buletong memang gurih dan lembut dagingnya. Pelengkap menu berbuka shaum kami…

Tidak ada komentar: